Ratu SHIMA dari Kerajaan Kalingga


RATU SHIMA KERAJAAN KALINGGA
Pernahkah kamu membayangkan sebuah negeri di mana sekantung emas berharga tergeletak di tengah jalan selama bertahun-tahun, tapi tidak ada satu orang pun yang berani mengambilnya? 

Kedengarannya seperti cerita dongeng, ya? Tapi tahu tidak, kisah luar biasa ini benar-benar nyata dan pernah terjadi di tanah Jawa pada abad ke-7 masehi! 

Semua itu bisa terjadi berkat ketegasan seorang pemimpin perempuan legendaris bernama Ratu Shima, penguasa tunggal dari Kerajaan Kalingga (Jawa Tengah). Di bawah kepemimpinannya, hukum tegak lurus dan tidak bisa disuap oleh siapa pun, bahkan oleh anak kandungnya sendiri. 


Yuk, kita bahas kisah dramatis pengorbanan seorang ibu demi sebuah keadilan!


---

Peta Kekuasaan Nusantara di Masa Ratu Shima

Sebelum kita masuk ke kisah hukumnya yang ekstrem, mari kita lihat dulu kondisi Nusantara saat itu. Ratu Shima naik takhta pada tahun 674 Masehi untuk menggantikan suaminya yang wafat. 


Pada abad ke-7 itu, peta politik Nusantara sedang sangat dinamis:

* Di Sumatra, Kerajaan Sriwijaya baru saja berdiri (sekitar 671 M) dan sedang kuat-kuatnya membangun kekuatan maritim.

* Di Jawa Barat, Kerajaan Tarumanagara yang melegenda baru saja runtuh dan terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Di tengah kepungan kekuatan besar tersebut, Kerajaan Kalingga di bawah Ratu Shima memilih fokus pada satu hal: stabilitas keamanan dalam negeri dan kejujuran rakyatnya.

Ujian Kantung Emas: Ketika Kejujuran Rakyat Diuji

Aturan hukum di Kalingga sebenarnya sangat sederhana tapi mengerikan: siapa pun yang mencuri atau menyentuh barang yang bukan miliknya, hukumannya adalah potong tangan atau potong kaki!

Kabar tentang aturan ekstrem ini terdengar sampai ke luar negeri. Seorang raja asing dari Arab bisa jadi masa khalifah Muawiyah (dalam catatan Dinasti Tang disebut Ta-shih) merasa penasaran. Beliau ingin menguji, apakah rakyat Kalingga benar-benar sejujur itu atau hanya takut saja.


Akhirnya, sang raja mengutus orang untuk menaruh sekantung emas di tengah-tengah alun-alun kerajaan Kalingga. 

Hasilnya di luar dugaan! Selama tiga tahun penuh, kantung emas itu tergeletak begitu saja di jalan. Ribuan orang berlalu-lalang setiap hari, tetapi tidak ada satu pun warga yang berani menyentuh, apalagi mengambilnya. Mereka sangat menghormati hukum.

Dilema Terbesar: Menghukum Anak Kandung Sendiri

Namun, kesetiaan terhadap hukum ini mendadak diuji oleh keluarga kerajaan sendiri. Suatu hari, Putra Mahkota (Pangeran Narayana) sedang berjalan-jalan di alun-alun. Tanpa sengaja, ujung kakinya menyenggol kantung emas tersebut.


Mendengar laporan itu, Ratu Shima berada di posisi yang sangat sulit. Di satu sisi dia adalah seorang ibu, di sisi lain dia adalah mata tertinggi keadilan. 


Tanpa ragu, Ratu Shima langsung menjatuhkan hukuman mati kepada putranya sendiri! 


Tentu saja keputusan ini membuat para menteri kerajaan panik. Mereka langsung berlutut dan memohon ampunan agar sang pangeran dimaafkan karena tindakan itu tidak disengaja. Setelah perdebatan panjang, Ratu Shima akhirnya melunakkan keputusannya. 


"Karena kaki anakku yang bersalah menyentuh emas itu, maka kaki itulah yang harus dihukum," tegas Ratu Shima. 


Di depan mata rakyatnya, Ratu Shima memerintahkan agar kaki anak kandungnya sendiri dipotong. Sebuah keputusan berdarah yang membuktikan bahwa hukum di Kalingga tidak pernah pandang bulu. Hukum tajam ke bawah, dan terbukti jauh lebih tajam ke atas!

Dampak Hukum: Kalingga Jadi Pusat Dunia

Keputusan ekstrem Ratu Shima ini membawa dampak luar biasa bagi negaranya. Karena tingkat kriminalitas mencapai zero persen alias nol, Kerajaan Kalingga menjadi tempat paling aman untuk berbisnis di Asia Tenggara saat itu.


Dampaknya langsung terasa pada kemakmuran kerajaan:

1. Ekonomi Meroket: Pedagang internasional dari China, India, hingga Arab merasa sangat aman menaruh kapal dan barang dagangan mereka di pelabuhan Kalingga. Ekspor emas, perak, garam, dan gading gajah berkembang pesat.

2. Pusat Agama Buddha: Keamanan yang terjamin membuat para pendeta dunia betah tinggal di sana. Kalingga bahkan menjadi pusat penerjemahan kitab suci agama Buddha terbesar di Jawa pada masanya.

Inspirasi dari Ratu Shima untuk Zaman Sekarang

Ratu Shima wafat pada tahun 695 Masehi. Meskipun beliau sudah tiada ribuan tahun yang lalu, warisan pemikirannya tentang hukum masih sangat relevan. 


Di zaman sekarang, saat kita sering melihat hukum yang "bisa dibeli" atau tumpul ke atas, kisah Ratu Shima yang memotong kaki putranya sendiri adalah tamparan keras bagi moralitas kita. Integritas dan keadilan sejati adalah pondasi utama untuk membuat sebuah negara menjadi makmur dan disegani dunia.


Bagaimana menurut kalian? Kalau hukum potong kaki ala Ratu Shima ini diterapkan untuk para koruptor di zaman sekarang, kira-kira negara kita bakal bersih tidak ya? 


Yuk, tulis pendapat kalian di kolom komentar di bawah!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

sejarah ondel-ondel betawi

Sejarah "Naik Kelas Chef Indonesia "