Asal Usul Kerajaan Tarumanegara

 


Asal-Usul Kerajaan Tarumanegara: 

Dari Pelarian Politik hingga Menjadi Penguasa Jawa Barat Kerajaan Tarumanegara adalah kerajaan Hindu beraliran Wisnu tertua di Pulau Jawa yang berkembang antara abad ke-4 hingga ke-7 Masehi. Berdirinya kerajaan ini tidak lepas dari dinamika politik global di India dan runtuhnya hegemoni kerajaan lokal di Nusantara.


Latar Belakang Pendirian: 

Pelarian dari IndiaPada abad ke-4 Masehi, Kemaharajaan Gupta (Kerajaan Magadha) di bawah pimpinan Maharaja Samudragupta melakukan invasi militer besar-besaran ke wilayah Salankayana, India. Serangan ini memicu kekacauan besar. Seorang maharesi (pendeta tinggi Hindu) bernama Jayasingawarman memutuskan untuk memimpin rombongan pengungsi massal melintasi lautan menuju Nusantara demi menyelamatkan diri dan menjaga kelestarian tradisi keagamaan mereka.


Hubungan dengan Kerajaan Salakanagara

Rombongan pengungsi India ini mendarat di bagian barat Pulau Jawa dan diterima dengan baik oleh Raja Dewawarman VIII, penguasa Kerajaan Salakanagara—kerajaan tertua di Jawa Barat saat itu yang beribu kota di Rajatapura (Kota Perak, diperkirakan di Pandeglang, Banten).

Hubungan ini semakin erat setelah Jayasingawarman dinikahkan dengan putri sulung Raja Dewawarman VIII yang bernama Iswari Tunggal Pertiwi Warmandewi (Dewi Minawati). Pernikahan politik ini memberi Jayasingawarman legitimasi sosial dan perlindungan hukum yang kuat di tanah baru.

Berdirinya Tarumadesya hingga Menjadi Kerajaan


Setelah mendapat izin dari mertuanya, Jayasingawarman membuka lahan pemukiman baru di dekat Sungai Citarum pada tahun 358 M. Pemukiman ini dinamakan Tarumadesya (Desa Taruma), diambil dari nama tanaman tarum (indigo) yang tumbuh subur di sepanjang sungai dan digunakan sebagai pewarna kain alami.Karena lokasinya yang sangat strategis untuk pertanian dan perdagangan, Tarumadesya berkembang sangat pesat dan menarik banyak pendatang. Hanya dalam beberapa tahun, Jayasingawarman meningkatkan status wilayah otonom ini menjadi sebuah kerajaan mandiri bernama Tarumanegara (Negara Taruma) dengan gelar Rajadirajaguru Jayasingawarman.



Nasib Kerajaan Salakanagara 

Seiring pesatnya kemajuan Tarumanegara, pamor Salakanagara justru kian meredup. Setelah Raja Dewawarman VIII wafat, pusat kendali kekuasaan di Jawa Barat otomatis berpindah ke Tarumanegara.Ibu kota Rajatapura kehilangan statusnya sebagai pusat pemerintahan. Kerajaan Salakanagara secara resmi diturunkan statusnya menjadi kerajaan bawahan (vassal) di bawah kendali Tarumanegara, sebelum akhirnya benar-benar melebur sepenuhnya ke dalam wilayah Tarumanegara pada masa pemerintahan Dewawarman IX sekitar tahun 362 M.


Puncak Kejayaan dan Pelabuhan Sunda Kelapa

Tarumanegara mencapai puncak kejayaannya di bawah cucu Jayasingawarman, yaitu Raja Purnawarman. Untuk mendukung perekonomian, dibangunlah sebuah pelabuhan internasional yang sangat ramai di muara Sungai Ciliwung, yang kelak dikenal sebagai Pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta Utara).Pelabuhan ini menjadi titik temu perdagangan global yang menghubungkan Nusantara dengan pedagang dari Tiongkok dan India, memperdagangkan komoditas unggulan seperti tanaman tarum, rempah-rempah, emas, hingga cula badak. Demi mengamankan pelabuhan ini dari serangan bajak laut, Raja Purnawarman bahkan membentuk armada angkatan laut khusus yang kuat guna menjamin keselamatan jalur perdagangan maritim mereka

.Kehidupan sosial-ekonomi Kerajaan Tarumanegara sudah sangat maju dan teratur,

Dengan menitikberatkan pada dua sektor utama: pertanian dan perdagangan maritim. Hubungan antara raja dan rakyatnya terjalin sangat baik berkat perhatian pemerintah terhadap infrastruktur publik.Berikut adalah rincian kondisi sosial-ekonomi Tarumanegara beserta bukti prasasti arkeologis yang mendukungnya:

1. Kondisi Ekonomi dan Bukti

 PrasastinyaPerekonomian Tarumanegara bertumpu pada pertanian padi, peternakan, pemanfaatan hasil hutan (seperti kayu dan cula badak), serta perdagangan internasional lewat Pelabuhan Sunda Kelapa.Pembangunan Saluran Irigasi Raksasa (Pertanian)Kondisi: Untuk memajukan pertanian dan mengatasi bencana banjir yang sering melanda pemukiman, Raja Purnawarman memimpin proyek sodetan sungai sepanjang 12 km (11.000 busur panah). Saluran ini mengalirkan air dari Sungai Candrabhaga (Bekasi) dan Sungai Gomati ke laut. Proyek ini diselesaikan hanya dalam waktu 21 hari dengan gotong royong masyarakat.Bukti Prasasti: Prasasti Tugu (ditemukan di Cilincing, Jakarta Utara). Prasasti ini adalah bukti otentik paling lengkap mengenai proyek hidrolik (pengairan) pertama di Nusantara.

Perdagangan InternasionalKondisi: Letak Tarumanegara yang strategis membuat wilayahnya menjadi pelabuhan transit internasional yang ramai. Selain catatan prasasti, kondisi ini diperkuat oleh catatan biksu Tiongkok, Fa-Hien (414 M), yang menyebutkan adanya aktivitas perdagangan makmur di wilayah bernama To-lo-mo (Taruma). Komoditas utamanya adalah cula badak, gading gajah, dan tanaman tarum.


2. . Kondisi Sosial-Budaya dan Bukti Prasastinya

Masyarakat Tarumanegara hidup makmur di bawah sistem pemerintahan monarki yang berwibawa. Struktur sosial dibagi berdasarkan kasta (pengaruh Hindu), namun toleransi beragama berjalan sangat baik.Legitimasi Raja Sebagai Dewa (Dewa Raja)Kondisi: Dalam kehidupan sosial, Raja Purnawarman dipandang sebagai sosok pemimpin yang sangat kuat, adil, dan agung. Rakyat mengidentikkan sang raja sebagai titisan Dewa Wisnu (Dewa Pelindung dalam agama Hindu) untuk memperkuat kepatuhan sosial.Bukti Prasasti:Prasasti Ciaruteun (Bogor): Menampilkan sepasang cetakan telapak kaki Raja Purnawarman yang disamakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu.Prasasti Jambu (Bogor): Menyebutkan ketangguhan Purnawarman dalam bertempur dan sanjungan rakyat atas kepemimpinannya.


Kedermawanan Sosial Raja terhadap Rakyat 

Kondisi: Hubungan sosial antara kasta Brahmana (pendeta) dan Ksatria (kerajaan) sangat erat. Usai pembangunan Sungai Gomati, Raja mengadakan upacara keagamaan dan menyumbangkan 1.000 ekor lembu kepada kaum Brahmana sebagai bentuk syukur dan pembagian kesejahteraan.Bukti Prasasti: Prasasti Tugu. Lembu pada masa itu adalah aset ekonomi yang sangat berharga untuk membajak sawah.Kondisi Keamanan MasyarakatKondisi: Kehidupan sosial masyarakat sangat aman dari gangguan eksternal. Raja berhasil membasmi komplotan perompak laut yang sebelumnya meresahkan jalur perdagangan.Bukti Prasasti: Prasasti Pasir Muara (Bogor), menyatakan pengembalian wilayah pimpinan kepada pemerintahan yang sah, serta Prasasti Cidanghiang/Lebak (Pandeglang) yang mengagungkan keberanian raja yang menjadi pelindung jalannya kehidupan masyarakat.

Situs Batujaya memiliki hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Tarumanegara.

Meskipun secara administratif situs ini terletak di Kabupaten Karawang (berbatasan langsung dengan Bekasi), wilayah ini pada masa lalu merupakan bagian inti dari pusat peradaban Tarumanegara.Berikut adalah poin-poin penting hubungan antara Situs Batujaya dan Kerajaan Tarumanegara:1. Bukti Kompleks Percandian Tertua di JawaBerdasarkan analisis penanggalan karbon (radiometric carbon dating) dan uji artefak, struktur bangunan di Situs Batujaya (seperti Candi Jiwa dan Candi Blandongan) diperkirakan dibangun sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi.Garis waktu tersebut tepat bertepatan dengan masa keemasan pemerintahan Raja Purnawarman di Tarumanegara. Kompleks ini bahkan jauh lebih tua daripada Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Bukti Tingginya Toleransi Beragama

Agama Raja: Prasasti-prasasti Tarumanegara (seperti Ciaruteun dan Tugu) menunjukkan bahwa Raja Purnawarman memeluk agama Hindu beraliran Wisnu.Agama Situs Batujaya: Candi-candi di Kompleks Batujaya justru bercorak agama Buddha (terbukti dari temuan arca terakota, stuko tablet bertuliskan mantra Buddha).

Hubungannya: Ini membuktikan bahwa di bawah kekuasaan Tarumanegara, masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda (Hindu dan Buddha) hidup berdampingan secara damai. Raja mengizinkan umat Buddha membangun kompleks ibadah yang megah.

Korelasi Jalur Transportasi (Sungai Citarum)Kompleks Percandian Batujaya dibangun di daerah aluvial dekat dengan aliran Sungai Citarum.Mengingat sejarah pendirian Tarumanegara dimulai dari dibukanya Tarumadesya (Desa Taruma) di tepi Sungai Citarum oleh Jayasingawarman, wilayah Batujaya dipastikan berfungsi sebagai pemukiman religius sekaligus pelabuhan sungai yang vital bagi mobilitas ekonomi kerajaan.


Kelanjutan Budaya Buni (Prasejarah ke Sejarah)

Di Situs Batujaya juga ditemukan banyak rangka manusia kuno, tembikar, dan manik-manik yang berasal dari Kebudayaan Buni (fase protosejarah/prasejarah akhir abad ke-2 M).Kebudayaan Buni inilah yang menjadi akar masyarakat lokal asli Jawa Barat, yang kemudian berasimilasi dengan budaya India (dibawa oleh Jayasingawarman) hingga akhirnya berkembang menjadi peradaban maju Kerajaan Tarumanegara.Dengan demikian, Situs Batujaya bukan sekadar tumpukan bata tua, melainkan situs arkeologi hidup yang memvalidasi kemajuan teknologi arsitektur, pertanian (adanya sekam padi pada bata candi), serta kondisi sosial-keagamaan Kerajaan Tarumanegara yang sangat toleran.

Berdasarkan catatan musafir Tiongkok, Fa-Hien, yang sempat terdampar di Tarumanegara pada tahun 412–413 M, peta kehidupan beragama masyarakat Tarumanegara saat itu terbagi menjadi tiga kelompok utama:1. Agama Hindu Wisnu (Mayoritas)Sektor Utama: Ini adalah agama resmi kerajaan yang dianut oleh golongan bangsawan, para pendeta (Brahmana), dan sebagian besar masyarakat.Bukti Sejarah: Berbagai prasasti seperti Prasasti Ciaruteun menegaskan kepatuhan pada Hindu dengan menyamakan telapak kaki Raja Purnawarman dengan kaki Dewa Wisnu. Ritual kurban 1.000 ekor lembu dalam Prasasti Tugu juga murni tradisi Hindu-Brahmana.


Agama Buddha (Minoritas)

Sektor Utama: Meskipun penganutnya sedikit, keberadaan umat Buddha diakui dan diberi kebebasan beribadah oleh raja.

Bukti Sejarah: Penemuan Situs Batujaya di Karawang yang memiliki struktur bangunan candi Buddha dan tablet mantra menunjukkan adanya toleransi beragama yang sangat tinggi pada masa itu.

Kepercayaan Lokal Sektor Utama: Fa-Hien mencatat keberadaan kelompok masyarakat yang menganut apa yang ia sebut sebagai "agama kotor atau buruk". Istilah ini sebenarnya merujuk pada ketidaktahuan Fa-Hien terhadap kepercayaan lokal/asli Nusantara yang memuja roh leluhur dan benda sakral.

Hubungan dengan Sunda Wiwitan: Di wilayah Jawa Barat, sisa-sisa sistem kepercayaan lokal prasejarah ini nantinya terus bertransformasi dan diidentifikasi oleh para ahli sebagai cikal bakal dari keyakinan asli Sunda kuno, yaitu Sunda Wiwitan.

Jadi secara geografis dan teologis, keyakinan lokal masyarakat bawah Tarumanegara lebih dekat ke akar budaya Sunda kuno, sedangkan struktur formal negaranya didominasi oleh Hindu Wisnu.

PARA RAJA TARUMANEGARA

Kerajaan Tarumanegara berdiri selama 311 tahun, yaitu dari tahun 358 Masehi hingga runtuh pada tahun 669 Masehi. 

Selama lebih dari tiga abad tersebut, takhta Tarumanegara dipimpin oleh 12 orang raja secara turun-temurun.Berikut adalah silsilah urutan 12 raja yang pernah memerintah Kerajaan Tarumanegara berdasarkan catatan historis:

Jayasingawarman (358–382 M)Maharesi asal India sekaligus pendiri kerajaan yang membuka wilayah otonom pertama di tepi Sungai Citarum.

Dharmayawarman (382–395 M)Putra sulung Jayasingawarman yang meneruskan fondasi pemerintahan ayahnya.

Raja Purnawarman (395–434 M)Raja terbesar yang membawa Tarumanegara ke puncak kejayaan, memperluas wilayah otonom, mendirikan ibu kota baru bernama Sundapura, dan membangun proyek irigasi Sungai Gomati.

Wisnuwarman (434–455 M)Putra Purnawarman yang melanjutkan stabilitas ekonomi dan keamanan dalam negeri.

Indrawarman (455–515 M)Pemerintahannya tergolong stabil dan cukup lama (sekitar 60 tahun), menjaga hubungan diplomatik regional.

Candrawarman (515–535 M)Putra dari Indrawarman yang berkuasa dengan penuh wibawa.Suryawarman (535–561 M)Mulai memberikan hak otonomi yang lebih luas kepada raja-raja daerah bawahannya.

Kertawarman (561–628 M)Masa pemerintahannya mulai diwarnai dengan kemunculan bibit-bibit kerajaan baru di wilayah Jawa Barat, seperti Kerajaan Kendan.

Sudhawarman (628–639 M)Melanjutkan kepemimpinan di tengah mulai menguatnya pengaruh politik kerajaan daerah di sekitarnya.


Hariwangsawarman (639–640 M)Memerintah dalam waktu yang sangat singkat (hanya sekitar satu tahun).

Nagajayawarman (640–666 M)Menantu atau penerus dinasti yang mencoba mempertahankan stabilitas di tengah merosotnya dominasi pusat Tarumanegara.

Linggawarman (666–669 M)Raja terakhir Tarumanegara. Karena ia tidak memiliki putra, takhtanya jatuh kepada menantunya, Tarusbawa

Tarusbawa kemudian mengubah nama Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda, yang menandai berakhirnya era Tarumanegara.

PENERUS KERAJAAN TARUMANEGARA

KERAJAAN SUNDA DAN KERAJAAN GALUH

Krisis Ketiadaan Putra MahkotaRaja terakhir Tarumanegara, Raja Linggawarman (666–669 M), tidak memiliki anak laki-laki yang bisa meneruskan takhta secara langsung.Ia hanya memiliki dua orang putri, yaitu:Dewi Manasih, yang menikah dengan Tarusbawa (seorang penguasa dari kerajaan bawahan bernama Kerajaan Sunda Sambawa).Sobakancana, yang menikah dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pendiri Kerajaan Sriwijaya).


Tarusbawa Mengubah Nama Tarumanegara

  • Setelah Raja Linggawarman wafat pada tahun 669 M, menantu pertamanya, Tarusbawa, naik takhta menjadi penguasa Tarumanegara yang baru.
  • Tarusbawa ingin membangkitkan kembali kejayaan kerajaan dengan memindahkan ibu kota ke wilayahnya di pedalaman dekat Bogor.
  • Ia kemudian mengambil kebijakan radikal dengan mengubah nama Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda. [1, 2, 3, 4, 5]
Pemberontakan dan Perpecahan (Lahirnya Kerajaan Galuh)Penggantian nama dari Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda ternyata tidak disetujui oleh para penguasa daerah bawahan lainnya.Pemimpin dari wilayah pesisir timur (daerah sekitar Ciamis/Tasikmalaya sekarang) bernama Wretikandayun, yang memimpin Kerajaan Galuh, memilih untuk memisahkan diri.Wretikandayun menuntut kemerdekaan penuh bagi Kerajaan Galuh karena menganggap dinasti Tarumanegara yang asli telah berakhir. Karena Tarusbawa ingin menghindari perang saudara, ia menyetujui tuntutan tersebut.

Akhir Riwayat: Terbagi Menjadi Dua
Akibat keputusan tersebut, bekas wilayah kekuasaan Tarumanegara secara resmi terbagi dua dengan batas geografi berupa Sungai Citarum:
  • Bagian Barat (dari Citarum ke arah Banten) menjadi kekuasaan Kerajaan Sunda di bawah Tarusbawa.
  • Bagian Timur (dari Citarum ke arah Jawa Tengah) menjadi kekuasaan Kerajaan Galuh di bawah Wretikandayun. [1, 2]
Dengan pembagian wilayah dan penghapusan nama ini, maka berakhirlah riwayat Kerajaan Tarumanegara dalam panggung sejarah Nusantara.



snb project, agustus 2026



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ratu SHIMA dari Kerajaan Kalingga

sejarah ondel-ondel betawi